Apa itu Salaf, Manhaj Salaf, dan Salafi?

    Share

    Abul Fudhail
    Admin
    Admin

    Number of posts : 52
    Age : 28
    Location : Jakarta - Melbourne
    Real Name : Ricky Zulkifli Bokings
    Nickname : Abul Fudhail
    Registration date : 2009-02-02

    Apa itu Salaf, Manhaj Salaf, dan Salafi?

    Post by Abul Fudhail on Wed Feb 04, 2009 2:10 pm

    بسم الله الرحمن الرحيم

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
    Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

    يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
    ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam’ [Ali Imran 102]

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
    ‘Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu’ [QS. An Nisaa’ 1].

    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
    ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar’ [Al Ahzaab 70-71]

    SALAF

    Secara Bahasa

    Ibnu Mandhur berkata,” Salaf merupakan jama’/plural dari kata salif seperti wazan (rumus kata dalam bahasa arab) haris yang jamanya haras dan khadim yang jama’nya khadam. Salif artinya orang yang terdahulu sesuai urutan waktu (pendahulu, nenek moyang). Salaf artinya jama’ah (kelompok) pendahulu.... Salaf juga bermakna para pendahulumu dari bapak-bapakmu dan kerabatmu yang secara umur dan kemuliaan lebih tinggi darimu.” [IX/158-159].

    Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayisi Lughah menyatakan,” Sin, laam dan faa’ merupakan asal kata yang shahih menunjukkan makna terdahulu dan awal-awal. Di antaranya adalah kata salaf yang bemakna orang-orang yang telah lewat. Dikatakan al Qaum as Salaf (kaum salaf) maknanya adalah terdahulu.”[AlMahmud I/21].

    Secara Syar’i

    Secara syar’i, pendapat para ulama menyatakan makna salaf tidak jauh dari makna shahabat, atau shahabat dan tabi’in, atau shahabat dan tabi’in dan tabi’it tabi’in dari kalangan para ulama dan imam terpercaya yang telah diakui keilmuan dan ittiba’nya dengan Al Qur’an dan As sunnah, yaitu para ulama ynag tidak terkena tuduhan bid’ah baik bid’ah mufasiqah (membuat fasik) ataupun mukafirah (membuat kafir). [Buraikan :14, AlMishri :56-57,Hasan:34-35].

    Mereka inilah yang dimaksud dengan ayat-ayat yang menerangkan golongan yang diridhoi Allah dan Allah meridhoi mereka (seperti QS Al Fath :29, QS Al Hasyr :8-9,QS Al Anfal :74, QS Al Fath :14,QS At Taubah :118,100, QS An Nisa’ :143] juga hadits-hadits seperti,” Sebaik-baik manusia adalah generasiku (shahabat) lalu generasi setelah mereka (tabi’in) lalu generasi setelah mereka (tabi’it tabi’in)...” Dan hadits,”Sebaik-baik umatku adalah generasiku, lalu generasi sesudah mereka (tabi’in) lalu generasi sesudah mereka (tabi’it tabi’in)...” [] [Basyir Badi, AlMahmud I/28,Buraikan :14,Al Mishri :57].

    Namun timbul pertanyaan, bukankah pada masa shahabat dan tabi’in misalnya timbul kelompok sesat seperti Khawarij, Rafidzah, Qadariyah, Mu’tazilah dst? Persoalan ini bisa dijawab bahwa pada dasarnya, kata salaf ini [Buraikan :14, AlMahmud I/40-41, Majalatul Buhuts XV/178, Hasan I/34-35] mempunyai dua pengertian :

    Pertama.

    Sisi Qudwah (keteladanan). Artinya, yang dimaksud salaf adalah tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai Al Qurun al Mufadhalah (tiga generasi mulia) yaitu shahabat, tabi’in dan tabi’in.

    Kedua.

    Sisi Manhaj (metode). Artinya salaf tidak terbatas pada iga generasi utama saja, namun juga setiap muslim yang mengikuti manhaj mereka sampai hari akhir nanti. Siapa mengikuti tiga generasi utama dalam masalah pemahaman aqidah, pemikiran, ilmu dan iman maka ia bisa disebut sebagai salaf atau pengikut salaf.

    Al Mishri [h.57] berkata,” Salaf berarti istilah yang dipakai untuk para imam terdahulu dari tiga generasi pertama yang diberkahi dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yang disebutkan dalam hadits Rasulullah,” Sebaik-baik generasi adalah...” Setiap orang yang beriltizam dengan aqidah, fiqih dan ushul (pokok-pokok pegangan) para ulama tadi maka ia dinisbahkan kepada salaf juga, sekalipun antara ia dengan mereka ada perbedaan ruang dan waktu. Sebaliknya, setiap yang menyelisihi mereka tidak disebut sebagai salaf sekalipun ia hidup dio antara mereka dan dikumpulkan oleh ruang dan waktu yang sama.”

    Dr. Abu Yazid al ‘Ajami menyatakan,” Dengan demikian, lafal salaf ketika disebutkan harusnya tidak dimaknai untuk periode masa tertentu saja (tiga generas utama) namun juga untuk para shahabat Rasulullah dan tabi’ihim (pengikut mereka) sesudah mereka dengan syarat iltizam dengan manhaj mereka.”[Majalatu al Buhuts XV/178].

    Syaikh Mahmud Khafaji dalam Al Aqidah al Islamiyah Baina as Salafiyah wa al Mu’tazilah hal 21 menyebutkan,” Pembatasan waktu ini tidak cukup untuk menentukan makna salaf, namun juga harus diikutkan di dalam kepeloporan dalam waktu ini, kesesuaian pendapat (aqidah dll—pent) nya dengan al Qur’an dan As sunnah dan kandungan keduanya. Siapa menyelisihi Al Qur’an dan As sunnah maka ia tidak termasuk salaf sekalipun hidup di antara para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.” [Al Mishri :57].

    Karena itu setelah timbulnya sekte-sekte sesat ini, para ulama sepakat menyatakan makna salaf untuk setiap orang yang menjaga kemurniaan aqidah Islam dan manhaj Islam sesuai dengan manhaj dan pemahaman tiga genmerasi pertama Islam. [AlMahmud I/28, hal senada disebutkan juga oleh DR. Musthofa Hilmi dalam buku beliau Qawa’idu al Manhaj as Salafy :23].

    Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah apa yang dikatakan Dr. Buraikan,”Dengan ini diketahui bahwa pensifatan dengan salaf itu pujian atas setiap orang yang menjadikannya sebagai qudwah dan manhaj. Adapun mensifati diri dengan salaf tanpa merealisasikan kandunagn lafal ini maka tak ada pujian baginya, karena hukum diambil dari kandungan maknanya bukan dengan lafal-lafal bahasa.” [hal.14].

    Nampaknya yang beliau maksudkan adalah banyaknya kelompok saat ini ayang menyatakan dirinya salafy (pengikut manhaj salaf) namun aqidah, akhlak, metode berfikir, pemahaman dan sikap hidupnya tidak sesuai dengan manhaj dan qudwah tiga generasi awal Islam. Kalau kita lihat di Indonesia misalnya, masyarakat mengenal salafy (pengikut salafy) yang sebenarnya nama lain ahlu snah wal jama’ah sebagai

    (1) kelompok penghujat umat Islam dengan kartu ahli bid’ah, ahlil ahwa’, khawarij, mu’tazilah dll.

    atau;

    (2) kelompok yang hampir seluruh ibadahnya tak lepas dari kebid’ahan, aqidahnya banyak bercampur dengan kesyirikan seperti tawasul bid’ah dll. Sampai-sampai karena tidak paham makna salaf, di Bojonegoro Jawa Timur ada sebuah pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asy’ariyah.

    Begitulah, tidak setiap orang yang mengaku salafi (pengikut salaf) betul-betul mengikuti metode salaf. Namun juga merupakan kesalahan besar jika menolak kembali ke salafush sholih atau menolak memahami Al Qur’an dan As sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat/salafush sholeh atau menolak menisbatkan diri sebagai salafi (pengikut salafush sholeh), hanya karena alasan adanya kelompok yang menamakan dirinya salafi namun isinya tidak sesuai dengan salaf.

    Kita sadari masih banyak umat Islam yang menyatakan yang penting kembali kepada Al Qur’an dan As sunnah, tak perlu pakai embel-embel salaf segala. Pemikiran ini jelas salah kaprah dan sangat berbahaya, karena memungkinkan dirinya teracuni banyak pikiran sesat seperti Mu’tazilah, Khawarij, Qadariyah dst. Semua kelompok sesat mengaku dirinya kembali kepada Al Qur’an dan As sunnah, namun memahaminya sesuai dengan kemauan mereka sendiri, kemauan imam mereka, tokoh pendiri kelompok mereka dst. Inilah letak perbedaannya. Manhaj salaf jelas telah mendapat rekomendasi Allah Ta’al dan Rasulullah sebagai manhaj yang benar, karena diajarkan Rasulullah berdasar wahyu kepada para shahabat.

    Sumber:
    http://www.geocities.com/tau_jih/a-ahlatsar.htm

      Similar topics

      -

      Current date/time is Fri Dec 09, 2016 10:25 pm